Berkedip mata sementara menghadap kearah timur, masih tetap berdiam diri duduk ditempat biasanya dia duduk tersenyum disana, malam ini kucoba renungan disana tepat pukul 0.00 mataku terbuka bintang itu berhadapan jelas denganku, air mata yang tak kunjung henti mengalir, jari-jari masih senang mengulang kata-kata yang sama untuk wanita itu.
kata-kata maaf dan bintang seakan berpesan
"tenangkan dirimu, penerang itu tidak akan pernah redup hapus air matamu, begaimana dia akan tersenyum seadainya disini bintangnya tak kunjung terang, meski terbangun menjelang keberadaanku disini berakhir malam ini, kusediakan waktu menemanimu. buka hatimu dengan semua sejarah saat awal kau pandang aku bersamaan dengan matanya yang menyingkap jendela kamarnya tengah malam, hingga hawa dinginpun tak terasa, masih ingat ketika pesan menjelang malam dikatakan kepadamu malam ini berharap kau hadir dimimpiku, jadi sebuah bintang yang indah yang kalahkan seluruh bintang, karna yang kuharap hanya keberadaanmu sepanjang hari dihatiku. masihkah cerita itu abadi diingatanmu?????? aku heran kenapa kau mengalah dan begitu lemah, bukankah kelemahanmu membuat dia tahan melihatmu?bukankah hanya senyuman yang akan kau berikan kepadanya?
pesanku terakhir,,,wahai pemuda sebutan bintang timur meneranglah...................!!!!!!
terdengar suara yang berbisik, ku ulangi kembali mengedipkan mata, kucoba ulang waktu seolah suara itu masih berbisik kepadaku, kubuka mata segera hapus air mata, benar yang dikatakannya, bagaiman kelak nanti akan menenangkan dirinya seandainya aku gelisah tak menentu, bagaimana nanti akan ku usapi air matanya sedangkan aku berlumuran air mata, bagaimana nanti aku akan teranginya sedangkan aku redupkan cahaya.
kucoba rebahkan diri pukul setengah lima sedankan tangan tanpa disadari masih coba memanggilnya lewat telpon genggam. masih tak sudi tangannya mengangkat panggilanku,,,mungkin harus sabarkan diri saat ini. azan bekumandang mudahan dia terbangun dari lelapnya.
Aku yakin tidak akan berakhir sehancur ini, sedangkan harapan-harapan sudah terukir indah.......
terdengar suara yang berbisik, ku ulangi kembali mengedipkan mata, kucoba ulang waktu seolah suara itu masih berbisik kepadaku, kubuka mata segera hapus air mata, benar yang dikatakannya, bagaiman kelak nanti akan menenangkan dirinya seandainya aku gelisah tak menentu, bagaimana nanti akan ku usapi air matanya sedangkan aku berlumuran air mata, bagaimana nanti aku akan teranginya sedangkan aku redupkan cahaya.
kucoba rebahkan diri pukul setengah lima sedankan tangan tanpa disadari masih coba memanggilnya lewat telpon genggam. masih tak sudi tangannya mengangkat panggilanku,,,mungkin harus sabarkan diri saat ini. azan bekumandang mudahan dia terbangun dari lelapnya.
Aku yakin tidak akan berakhir sehancur ini, sedangkan harapan-harapan sudah terukir indah.......